Rabu, 08 Mei 2013

ILMU DAN MANFAATNYA


ILMU DAN MANFAATNYA BAGI UMAT ISLAM
Oleh: H. Syariful Mahya Nasution, Lc*

I.     Pendahuluan.
Ilmu adalah kunci kehidupan, dengannya hikmah dan rahasia kehidupan dapat terungkap dan dengannya pula kebahagiaan hakiki dapat tercapai.
Namun, ketika sejarah semakin menjauh dari masa Rasulullah Saw. semakin sedikit pula umat Islam yang mencintai ilmu, sedangkan kehidupan telah dihiasi dengan materialistis dan hedonisme. Segala sesuatu telah diukur dengan harta, pangkat dan jabatan. Akibatnya sangat fatal dalam semua lini kehidupan, utamanya dalam cara pandang dan berfikir umat Islam.
Ulama yang memahami Islam dengan baik dan benar semakin langka, dan seperti kata Rasulullah Saw. yang lahir adalah orang- orang yang menjadikan Islam sebagai komoditas dan alat untuk meraih kepentingan.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan menghilangkan ilmu itu dari hambanya, tetapi Ia mewafatkan para ulama sehingga tidak ditemukan lagi seorang yang alim. Maka manusia-pun bertanya kepada para juhhal, maka mereka (para juhhal) berfatwa tanpa dasar ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. (Bukhari, Muslim, At- Tirmidzi, dan An- Nasai)
Pada saat ini telah tepat disebutkan, sebagai masa yang disebutkan Rasulullah Saw. dalam satu hadits sebagai masa yang penceramahnya banyak dan ulamanya sedikit.
Sesungguhnya menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap umat Islam, yang harus dilakukan tanpa mengenal batas masa. Allah Swt. berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui (An- Nahl :43).
Juga hadits yang diriwayatkan Anas Ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Menuntut Ilmu adalah wajib bagi setiap muslim. (H.R. Ibnu Majah)[1]
Umat Islam wajib menyadari bahwa menuntut ilmu selain sebagai kewajiban, ternyata ilmulah yang dapat mengangkat derajat dan mengembalikan izzah yang seharusnya menjadi hak umat Islam, baik didunia juga akhirat. Imam Syafi’i Rh. menyatakan:
من أراد الدنيا فعليه بالعلم و من أراد الأخرة فعليها بالعلم و من أرادهما فعليهما بالعلم
Siapa yang mencari kesenangan dunia, ia akan mendapatkannya dengan ilmu. Siapa yang mengharap kebahagiaan akhirat ia peroleh dengan  ilmu, dan siapa yang menginginkan keduanya ia juga akan memperolehnya dengan ilmu.

II.   Manfaat Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu memberikan manfaat yang dihasilkan selama hidup di dunia juga sampai akhirat kelak, antara lain adalah:
1.        Meninggikan derajat disisi Allah Swt. sebagaimana dalam Q.S. Al- Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Menurut satu riwayat, ayat ini turun pada hari Jum’at saat Rasulullah Saw. berada di-suffah masjid Nabawi mengajarkan ilmu. Mereka kedatangan kaum al- Muhajirin, lalu Rasulullah meminta sebahagian yang berada di majelis itu untuk melapangkan tempat bagi mereka. Diturunkanlah surat Al- Mujadilah ayat 11 untuk mendukung sikap Rasulullah Saw. dan untuk menjelaskan bahwa kedudukan orang- orang yang diminta bergeser pada majelis itu tidaklah berkurang dengan melapangkan tempat untuk saudaranya dari kaum al- Muhajirin.[2]
2.     Kemuliaan orang yang berilmu adalah pada posisi ketiga, setelah yang pertama yaitu Allah dan yang kedua yaitu malaikat. Sebagaimana firman Allah Swt.;
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Ali Imran : 18)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan; ini adalah satu bukti bahwa ulama memiliki kedudukan yang agung disisi Allah.[3]
3.        Ilmu melahirkan pengenalan yang benar dan lebih mendalam terhadap Allah Swt.;
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba- hamba-Nya, hanyalah ulama Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Q.S. Fathir : 28)
Takut yang dimaksud disini adalah takut yang melahirkan at- Takrim dan at- Ta’dzim, dan itu hanya lahir dari ulama yang mengenal Allah.[4]
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan; para ulama yang mengenal Allah pasti
4.        Menambah timbangan pahala, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.
عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِي الدَّرْدَاءِ فِي مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّي جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَدِيثٍ بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Katsir bin Qais berkata; saya duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Dimasyq ketika seorang laki- laki datang dan bertanya; wahai Abu Darda’ saya datang dari Kota Rasul Saw. untuk mendengar satu hadits yang saya dengar kamu riwayatkan dari Rasulullah Saw. saya datang bukan untuk kebutuhan lain. Abu Darda’ berkata; sungguh saya dengar Rasulullah Saw. bersabda “siapapun yang berjalan untuk mencari ilmu maka Allah mudahkan baginya jalan menuju syurga dan sungguh Malaikat membentangkan sayapnya sebagi keridhaan bagi penuntut ilmu dan sungguh seluruh makhluk yang ada dilangit dan dibumi serta ikan di air senantiasa meminta keampunan bagi seorang penuntut ilmu dan sungguh keistimewaan seorang yang berilmu dibanding seorang ahli ibadah seperti keistimewaan bulan pada malam purnama terhadap semua bintang dan sungguh ulama adalah pewaris para Nabi dan sungguh para Nabi tidaklah mewarisikan Dinar dan Dirham, mereka meninggalkan ilmu, maka siapapun yang ingin mengambilnya, ambillah dengan sepenuhnya. (H.R. Abu Daud)[5]
5.    Dengan ilmu, seorang muslim mampu mengambil pendapat dan melakukan tindakan yang tepat untuk mensikapi situasi dan kondisi umat Islam saat ini.
6.  Dengan menuntut ilmu, seseorang dapat mengetahui kapan dan kepada siapa ia harus berbicara, karena tidak semua ilmu yang diketahui harus disampaikan kepada setiap orang, Ibnu Mas’ud Ra. berkata, “Tidaklah engkau mengajak bicara suatu kaum dengan sesuatu yang tidak dipahami oleh akal mereka kecuali akan menjadi fitnah untuk sebagian mereka.”[6]
Abu Hurairah berkata, “Aku hafal dari Rasulullah Saw. dua bejana, yang satu bejana aku sampaikan dan yang satu lagi apabila aku sampaikan maka tenggorokanku akan diputus.”[7] Yang disembunyikan oleh Abu Hurairah adalah hadits-hadits tentang fitnah dan hadits- hadits tentang Bani Umayah, sengaja Abu Hurairah tidak sampaikan agar tidak menimbulkan fitnah dan perpecahan karena orang- orang pada waktu itu telah kembali bersatu di bawah kepemimpinan Mu’awiyah bin Abu Sufyan Ra.
                                                                                                                                                                                                                  
III.  Kemuliaan Ilmu
Ilmu sebagai cakrawala kehidupan memiliki kemuliaan dalam agama Islam, diantaranya:
1.       Rasulullah Saw. bersabda yang maksudnya: "Ilmu itu adalah bendahara (khazanah) tak ternilai, anak kuncinya adalah bertanya, maka bertanya olehmu. Maka diberi pahala kepada empat orang. Pertama: Orang yang bertanya. Kedua: Orang alim. Ketiga: Orang yang mendengar. Keempat: Orang kasih kepada mereka."
2.        Memuliakan orang yang memilikinya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ ذُكِرَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا عَابِدٌ وَالْآخَرُ عَالِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
Dari Abu Umamah al- Bahily ia berkata seseorang menyebutkan kepada Rasulullah Saw. tentang dua orang salah satunya seorang ‘abid dan yang lainnya seorang alim. Maka Rasulullah bersabda; kemuliaan seorang alim terhadap seorang ‘abid seperti kemuliaanku terhadap orang yang paling rendah derajatnya diantara kamu kemudian beliau Saw. bersabda sesungguhnya Allah, malaikat, dan penduduk langit dan dunia sampai semut disarangnya dan ikan dilaut niscaya bershalawat terhadap seorang guru yang mengajarkan kebaikan.(H.R. At- Tirmidzi)[8]
3.        Salah satu ibadah yang paling utama adalah memahami ilmu agama. Syaithan lebih sulit menipu seorang alim daripada seribu 'abid (ahli ibadah). Segala sesuatu itu memiliki benteng dan memahami ilmu itu merupakan salah satu benteng agama.
4.  Ilmu tidak untuk dibangga- banggakan dan tidak boleh menyebabkan pemiliknya sombong sebagaimana dalam sunan Ibnu Majah bahwa Ibnu Umar meriwayatkan dari Rasulullah Saw. beliau bersabda:
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ فَهُوَ فِي النَّارِ
Seseorang yang mencari ilmu untuk mengalahkan para sufaha atau menandingi para ulama atau agar orang- orang memusatkan perhatian kepadanya, maka kelak ia berada dalam neraka. (H.R. Ibnu Majah)[9]

 

IV.  Ilmu Dibanding Harta

Kaum Khawarij merasa iri kepada Ali bin Abi Thalib Kw. atas kemuliaannya disisi Rasulullah Saw. dan ketinggian ilmunya. Maka suatu hari mereka mendatanginya untuk menguji kepintaran Shahabat Rasulullah Saw. ini dengan mengajukan pertanyaan yang sama oleh sepuluh orang dari mereka, dan Ali diharuskan menjawabnya dengan sepuluh jawaban yang berbeda.
Pertanyaan yang mereka ajukan adalah manakah yang lebih baik antara ilmu dan harta? Pertanyaan ini dijawab oleh Ali bin Thalib Kw. dengan:
1.    Ilmu lebih baik daripada harta, sebab ilmu adalah warisan para nabi, Sedangkan harta adalah warisan Qorun, Haman dan Fir’aun.
2.    Ilmu lebih lebih baik daripada harta, sebab ilmu selalu menjagamu, sedangkan engkau harus menjaga harta milikmu.
3.  Ilmu lebih lebih baik daripada harta, sebab orang berilmu banyak teman, sedangkan orang berharta banyak musuhnya.
4. Ilmu lebih lebih baik daripada harta, sebab ilmu bila di infaqkan semakin bertambah, sedangkan harta bila diinfaqkan semakin berkurang.
5.   Ilmu lebih lebih baik daripada harta, sebab orang berilmu dipanggil dengan sebutan mulia, sedangkan orang berharta dipanggil dengan sebutan hina.
6.  Ilmu lebih lebih baik daripada harta sebab Ilmu tidak perlu dijaga, sedangkan harta minta dijaga.
7.  Ilmu lebih lebih baik daripada harta, sebab orang berilmu dihari akhirat dapat memberi syafaat, sedangkan orang berharta dihari kiamat dihisab dengan berat.
8.   Ilmu lebih lebih baik daripada harta, sebab Ilmu bila dibiarkan saja tidak akan pernah rusak, sedangkan harta bila dibiarkan pasti berkurang.
9. Ilmu lebih lebih baik daripada harta, sebab Ilmu memberikan penerang didalam hati, sedangkan harta dapat membuat kerusakan didalam hati (seperti timbulnya sifat takabur, pamer,ingkar).
10.     Ilmu lebih lebih baik daripada harta, sebab orang berilmu bersikap lemah lembut dan selalu berbakti kepada Allah, sedangkan orang berharta, seringkali takabur dan ingkar kepada Allah. [10]

Tambahan:
11.  Semakin banyak ilmu yang didapat, menjadikan orangnya semakin tawadhu’ dan zuhud, sedangkan harta yang semakin banyak akan mendorong orangnya menjadi angkuh, sombong, dan berlaku sewenang- wenang.
12. Nasihat seorang ‘alim diharapkan semua kalangan baik para raja, juga rakyat jelata, sedangkan harta adalah harapan bagi para fuqara dan masakin.
13. Orang yang ‘alim ditemani ilmunya pada saat dan sesudah kematian, sedangkan harta akan menjadi beban saat kematian dan berpisah dari orangnya sesudah kematian.
14.  Seorang ‘alim selalu bahagia sekalipun tiada harta, sedangkan harta dapat menjadi penghalang antara jiwa dengan kebahagiaan.
15.  Sangat banyak harta yang dicabut Allah dari pemiliknya dalam sekejap, maka ia menjadi seorang fakir. Sedangkan orang berilmu dimuliakan Allah dengan terus menambahi ilmu dan meninggikan derajatnya.
16.  Mencintai ilmu dan mencarinya adalah ibadah dan ketaatan kepada Allah Swt, sedangkan mencintai dunia dan harta dan mencarinya adalah permulaan maksiat dan dosa.

V.   Cara Menuntut Ilmu
1.      Sebelum menuntut ilmu, terlebih dahulu berniat yang baik dan ikhlas.
2.      Senantiasa bermujahadah dalam menuntut ilmu. Allah Swt. berfirman:
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al- Baqarah : 282)
Imam Syafi’i berkata: Kamu tidak akan bisa meraih ilmu kecuali dengan enam hal, yaitu: Kecerdasan, tamak terhadap ilmu, sungguh- sungguh, menghubungi guru, mengeluarkan dana, terus-menerus tidak putus asa
3.      Seorang penuntut ilmu harus shabar atas segala rintangan.
4.  Masa menuntut ilmu adalah istimrariyah dan bertadarruj sebagaimana al- Qur’an juga diturunkan bertadarruj. (Q.S. Al-Israa': 106) Mulailah dari ilmu dasar sampai tingkat selanjutnya sesuai dengan kemampuan, sebab penuh sesaknya ilmu yang didengarkan secara bersamaan akan merusak pemahaman.
5.   Menghindarkan diri dari akhlak al- madzmumah, sebab ilmu itu merupakan ibadahnya hati, maka ilmu tidak berada dalam hati yang madzmum.
6.   Berkonsentrasi kepada ilmu, dan singkirkan rintangan dan kebiasaan buruk. Seperti; sibuk dengan hal- hal yang mengganggu, bermalas- malasan, dsb.
7.  Selalu berhati-hati dalam masalah makan. Imam Syafi’i berkata; Saya tidak pernah merasa kenyang selama 16 tahun, karena banyak makan menyebabkan mudah mengantuk, mematikan akal, melemahkan perasaan dan melahirkan kemalasan.
8.      Mengurangi bicara. Ibnu Abdil Barr berkata; seorang alim yang suka berbicara rentan melahirkan fitnah. Orang yang mendengar itu selamat dan bertambah ilmunya dari orang yang berbicara serta akan menuai rahmat. Sedangkan orang yang banyak bicara tidak bertambah ilmunya, ia hanya akan menunggu fitnah karena, pembicaraan itu kadang dihiasi dengan kebohongan, penambahan dan pengurangan.
9.    Selektif memilih kawan pergaulan, jika mampu adalah pergaulan yang membawa kebaikan dan takwa. Carilah kawan yang punya lima sifat; berakal, berakhlak al- karimah, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah dan tidak rakus pada harta.
10.  Memilih ilmu yang dipelajari. Ma’rifat Allah dari segi Uluhiyah, Rububiyah, Asma' dan Sifat-Nya adalah fondasi dari semua ilmu. Ia merupakan dasar bagi seorang hamba untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
11.  Guru yang dipilih dalam menuntut ilmu Islam adalah ulama yang baik dan benar dalam memahami dan mengamalkan agama. Dalam kitab al- Muwathhta’ karangan Imam Malik disebutkan
أَنَّ لُقْمَانَ الْحَكِيمَ أَوْصَى ابْنَهُ فَقَالَ يَا بُنَيَّ جَالِسْ الْعُلَمَاءَ وَزَاحِمْهُمْ بِرُكْبَتَيْكَ فَإِنَّ اللَّهَ يُحْيِي الْقُلُوبَ بِنُورِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِي اللَّهُ الْأَرْضَ الْمَيْتَةَ بِوَابِلِ السَّمَاءِ
Bahwa Lukman al- Hakim menasihati anaknya untuk menuntut ilmu dari para ulama dan senantiasa duduk dekat dengan mereka, karena Allah Swt. menghidupkan hati dengan nur al- hikmah, sebagaimana Allah menghidupkan bumi dengan bulir- bulir air dari langit.[11]
12. Menjaga adab terhadap guru, menerima pendapat yang benar dan lapang dada dalam perbedaan pendapat selama perbedaan itu masih dalam masalah ijtihadi. Maimun bin Mihran berkata; Janganlah kamu berdebat dengan orang yang lebih pintar darimu, itu tidak akan membawa manfaat bagimu.
13. Ketika memasuki majelis taklim, hendaklah badan dalam  keadaan bersih, pakaian dan kukunya, jangan sampai bau badannya menyengat tidak harum.
14. Tanyakanlah dengan baik sesuatu yang belum dipahami. Imam Mujahid berkata: Ilmu tidak bisa diraih dengan sikap malu- malu dan takabbur.
15.  Memulai pelajaran dengan basmalah, hamdalah, shalawat, dan mendoakan para ulama, guru- guru, kedua orang tua, dan segenap kaum muslimin.
16. Memulai dari mengingat dan mengahafalkan hal- hal dasar dan sangat perlu, dan jangan berpindah dari satu masalah (kitab) kepada masalah (kitab) lainnya, jika belum memahami masalah sebelumnya dengan baik dan benar.
17. Mengamalkan ilmu yang telah didapat, sebab ilmu yang tidak diamalkan bagai pokok kayu yang tidak berbuah, tiada berguna dan tidak pula bermanfaat.
18.  Senantiasalah berdo’a agar Allah Swt. membantu dan memudahkan dalam mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

*Disampaikan oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Natal dalam pengajian Wirid Yasin    
  desa Sasaran pada hari Jum'at tanggal 03 Mei 2013


[1] Sunan Ibnu Majah, juz I, hal. 260.
[2] Tafsir Fi Dzilal al- Qur’an, juz VII, hal. 151-152
[3] Tafsir Ibnu Katsir, juz II hal. 24.
[4] Tafsir Ibnu Katsir juz VI, hal. 544.
[5] Sunan Abu Daud, juz X, hal. 49.
[6] HR. Muslim dalam muqadimah shahihnya
[7] HR Bukhari no.120.
[8] Sunan At- Tirmidzi, juz IX, hal. 299.
[9] Sunan Ibnu Majah, juz I, hal. 295.
[10] Al- ‘Usfuriyah, hal 13.
[11] Muwaththa’ Imam Malik, juz VI, hal. 164.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar